Pada dasarnya, outbound dimaknai sebagai pembebasan atas potensi dasar, pola pikir, dan budaya keterbatasan. Dengan demikian, seseorang dapat melepas semua hal itu dengan cara mengenali potensi besar yang selama ini terpendam, mengubah pola pikir membuat dirinya kaku, serta melepas diri dari budaya sugesti yang mengukung potensi diri.

Dengan setting lingkungan fisik dan sosial yang unik – berbeda dengan keseharian – para peserta dimotivasi untuk terus berinisiatif menghadapi petualangan yang diberikan.

Selain meningkatkan kepercayaan diri, peserta juga dapat memanfaatkan outbound sebagai sarana mengasah jiwa kepemimpinan dan melatih diri dalam mengambil keputusan. Selain itu, outbound juga memberikan keuntungan bagi perusahaan. Permainan yang disajikan dalam outbound mengandung berbagai makna terselubung untuk meningkatkan kualitas  sumber daya manusia yang mrupakan asset berharga bagi perusahaan.

Melalui outbound, peserta diajak untuk memahami karaker orang, dilatih untuk biasa beradaptasi dengan siapa pun dan dengan kondisi apa pun. Peserta juga dilatih untuk bias menghargai, mengaklualisasi diri, dan –  yang terpenting – menanamkan semangat tim pada diri karyawan.
Melalu semangat dan jiwa yang telah tertanam tersebut, karyawan tidak akan mudah goyah dalam menghadapi tantangan pekerjaan yang tidak pasti. Selain itu, setelah karyawan mengikuti outbound, suasana kantor akan penuh dengan keakraban dan rasa kekeluargaan sehingga karyawan tidak akan segan mengaktualisasikan diri.

Mayoritas kegiatan outbound dilakukan di ruang terbuka karena metode yang digunakan adalah experiential learning, yaitu belajar dari pengalaman. Metode tersebut akan lebih efektif jika peserta melakukan praktik secara langsung. Dengan begitu, retensi (masa daya ingat) akan lebih panjang disbanding dengan jika peserta sekadar belajar teori d dalam kelas. Sempitnya ruang kelas juga membatasi aktivitas.

Pendekatan dengan aktivitas outdoor dianggap lebih bias mengakomodasi metode pembelajaran orang dewasa (adult learning). Orang dewasa kurang menyukai suasana formal karena hanya menghambat proses berpikir.

Terlebih lagi orang dewasa justru akan mengalami kemajuan jika dihadapkan  pada masalah – masalah nyata. Dengan begitu,  kemampuan problem solving-nya pun akan terasa. Suasana santai juga memungkinkan terciptanya ide-ide segar. Permainan yang disajikan dalam outbound memang telah disusun sedemikian rupa sehingga bukan hanya psikomotorik (fisik) peserta yang “tersentuh”, melainkan afeksi (emosi) dan kognisi (kemampuan berpikir).

Pada era kompetisi saat ini, hampir semua pekerja dibebani target yang tinggi, situasi kantor semakin tegang dan menjemukan. Dan tampaknya, hal itu telah disadari banyak organisasi, baik perusahaan maupun instansi pemerintahan. Karena itu, mereka tidak lagi ragu untuk mengeluarkan sejumlah dana sampai ratusan juta rupiah guna melepas kepenatan dan membangkitkan kembali semangat bekerja serta mempererat  kekompakan di antara para karyawan. Tujuan akhirnya saja untuk meningkatkan produktivitas perusahaan atau institusi.